Showing posts with label Bayi. Show all posts
Showing posts with label Bayi. Show all posts

Thursday, June 28, 2007

Sejuta Manfaat Yoga untuk Bayi

Tak ada yang meragukan kalau yoga itu sarat manfaat. Benarkah bayi juga boleh beryoga?

Yoga memang bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk bayi. Dan, the best part adalah ia bisa beryoga bersama Anda, orang tuanya. Jadi, Anda berdua akan sehat, bugar, plus super senang. Luar biasa, bukan?

Bukan hanya bebas kolik!

Akibat organ pencernaan yang baru berfungsi, bayi perlu melakukan berbagai penyesuaian. Tidak heran, kalau berbagai masalah seringkali mendera. Yang paling sering adalah, terperangkapnya udara di dalam rongga perut alias kolik. Tak jarang, Anda jadi putus asa karena si kecil rewel plus menangis terus. Melalui yoga, masalah ini ternyata mudah dihalau.

Pada dasarnya, yoga memang merupakan olah tubuh yang banyak melibatkan anggota badan. Itu sebabnya, banyak organ tubuh yang ikut-ikutan memetik manfaat. Misalnya, meningkatkan fungsi dan kerja sistem pencernaan, sehingga si kecil akan terhindar dari kembung, kolik atau sembelit.

Bukan cuma itu. Masih ada seabrek manfaat lain dengan beryoga, yakni:

Melancarkan peredaran darah.

Membantu perkembangan otot-otot tubuh bayi, sehingga jadi kuat dan lentur.

Membantu perkembangan saraf serta koordinasi gerak bayi.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga ia tidak mudah sakit.

Membantu menyiapkan tubuh bayi agar mampu menguasai berbagai keterampilan. Mulai dari berguling, merangkak, duduk, hingga berdiri dan juga berlari.

Merilekskan tubuh bayi, sehingga ia gampang tidur dan tidak rewel.

Lebih mendekatkan lagi hubungan Anda berdua.

Membantu pembentukan kepribadian bayi. Nggak hanya sehat saja, akan tetapi juga percaya diri dan bahagia.

Perlu persiapan

Biar “acara” beryoga berjalan lancar, sebaiknya Anda mempersiapkan segala sesuatunya secara masak-masak. Bukan apa-apa. Jangan sampai si kecil tiba-tiba menangis gara-gara menunggu terlalu lama atau sebab lainnya.

Salah satu persiapan yang cukup penting adalah membuat suasana ruangan jadi senyaman mungkin. Berikut beberapa kiatnya:

Bersihkan ruangan dari debu.

Perhatikan sirkulasi udara ruangan. Aturlah hingga sejuk, tidak pengap dan tidak lembap.

Perhatikan juga sinar atau cahaya yang terlalu kuat menerangi ruangan. Akibatnya, tempat beryoga jadi panas dan pandangan pun agak silau.

Idealnya, ruangan beryoga benar-benar tenang dan bebas dari suara berisik dari luar. Bagaimanapun, si kecil perlu berkonsentrasi agar gerakannya tepat.

Iringi olah tubuh dengan musik yang lembut dan pas untuk anak-anak.

Pakailah alas atau matras yang bersih dan lembut, tetapi tidak berbulu.

Selain ruangan, pakaian juga perlu mendapat perhatian. Caranya?

Pilih pakaian yang membuat si kecil bisa bergerak dengan leluasa.

Sebaiknya, pakaiannya terbuat dari bahan yang lembut dan tidak panas.

Hindari pakaian dengan banyak kancing (akan sakit bila tertindih badannya) atau pita-pita yang menjuntai (bisa mengenai mata atau masuk dalam mulutnya).

Jangan abaikan peran pelatih

Dalam beryoga, faktor pelatih sangat penting. Pelatih yang andal dapat melatih setiap gerakan dengan sempurna dan juga memberi penjelasan seputar falsafah yoga secara utuh. Dengan begitu, gerakan yang dilakukan tidak akan salah dan malah menyebabkan cedera.

Khusus yoga bagi si kecil, ada kriteria penting yang tak boleh diabaikan. Pelatih harus mengerti betul proses tumbuh kembang anak. Bukankah bayi belum bisa memahami berbagai instruksi yang akan diberikan? Itu sebabnya, gerakan untuk bayi yang baru bisa tengkurap pasti berbeda dari bayi yang sudah merangkak. Apalagi, kalau si kecil sudah bisa berdiri! Yang pasti gerakan yang dilakukan biasanya menyenangkan bayi Anda.

Meski begitu, ini bukan berarti Anda dan pasangan tidak bisa beryoga bersama bayi di rumah. Kuncinya adalah, Anda berdua sudah memahami betul tujuan dari setiap gerakan dan cara melakukannya dengan benar. Ada baiknya Anda tetap melakukan yoga bersama bayi-bayi lain di bawah bimbingan pelatih setiap minggunya. Selain pelatih bisa memantau perkembangannya, si kecil jadi pintar “bergaul” dengan teman-temannya.

Nia L.T.

Konsultasi ahli: Amalia Wirjono, Kasia – Rumah Yoga

Ini Siasat Jitu!

Sediakan waktu khusus untuk beryoga sama-sama. Dengan begitu, perhatian Anda bisa benar-benar tercurah pada olah tubuh ini, serta bebas dari masalah atau urusan lain.

Tunda beryoga bila bayi Anda terlihat sedang tidak mood. Entah karena lelah atau mengantuk. Apalagi, kalau ia sedang demam atau sakit. Bisa-bisa, beryoga “dimeriahkan” dengan tangisan dan sengal napasnya.

Hindari beryoga saat bayi lapar, baik menjelang waktu makan atau sesaat setelah makan.

Jenis-jenis Yoga Untuk Bayi

Apana

Baringkan bayi di matras lembut. Wajahnya menghadap Anda.

Pegang kedua paha si kecil. Ibu jari Anda di bawah paha, sementara jari lain di atas pahanya.

Secara perlahan-lahan, bawa kedua paha bayi ke dadanya. Tahan sekitar 5 detik, lalu kembali ke posisi semula.

Lakukan gerakan sebanyak 5-10 kali.

Manfaat: Membantu menghilangkan gas di perut dan menghindari sembelit.

Cat : Gerakan bisa dilakukan sejak si kecil berusia 1 bulan.

Headstand

Selonjorkan kedua kaki Anda.

Baringkan si kecil di atas kaki. Letakkan kepalanya di atas pergelangan kaki Anda.

Pegang erat pinggul dan paha bayi.

Perlahan-lahan tekuk lutut Anda hingga membentuk sudut 45 derajat. Lakukan sambil terus memegang erat pinggul depan dan pahanya. Tahan posisi ini selama 5 detik, dan turunkan lutut lagi. Biarkan bayi Anda beristirahat sejenak di atas kaki Anda.

Lakukan gerakan ini sampai sekitar 5 kali.

Manfaat: Mengalirkan oksigen ke otak dan membuat sistem saraf bekerja optimal.

Cat: Ini bisa dilakukan begitu bayi belajar duduk.

Butterfly

Duduklah dengan kedua lutut tertekuk ke arah luar, sementara kedua telapak kaki bertemu (membentuk segitiga).

Dudukkan si kecil di tengah-tengah segitiga. Usahakan agar punggungnya tetap menempel pada tubuh Anda.

Tekuk kedua kaki bayi sehingga membentuk segitiga juga.

Secara perlahan, tekan-tekan lutut bayi sambil meniru gerakan kepak sayap kupu-kupu.

Lakukan gerakan sebanyak 5-10 kali.

Manfaat:

- Menguatkan otot-otot tungkai.

- Menguatkan punggung.

- Membantu bayi menguasai keterampilan duduk dengan oke.

Cat: Dilakukan begitu bayi bisa duduk.

Toes to the Nose

Duduklah dengan kedua kaki bersila.

Dudukkan bayi di tengah silangan kaki Anda (punggung bayi menempel pada tubuh Anda).

Satu tangan Anda menjaga tubuh bayi, sedangkan tangan lain memegang salah satu kaki bayi dan membawanya ke hidung si kecil.

Gerakan dilakukan kira-kira 5 kali untuk masing-masing kaki.

Manfaat: Otot-otot tungkai jadi lentur.

Cat: Bila belum bisa duduk, si kecil boleh melakukannya sambil berbaring.

One Foot, Two Foot Lotus

Dudukkan bayi di depan Anda (punggung bayi menempel pada tubuh).

Tangan kanan Anda memegang lutut kanan bayi, sementara tangan kiri memegang pergelangan kaki kanannya.

Perlahan-lahan, tekuk kaki kanan bayi dan letakkan pergelangan kakinya di atas paha kirinya (posisi “setengah lotus”). Tahan posisi ini selama 5 detik, lalu secara perlahan kembali ke posisi semula.

Ulangi gerakan sebanyak 5 kali untuk masing-masing kaki.

Bila bayi Anda sudah mahir, coba langsung lakukan pada kedua kakinya. Dengan begitu, kaki bayi yang satu akan berada di atas kaki yang lain, membentuk posisi “lotus” sempurna.

Manfaat: Menguatkan otot-otot tungkai.

Cat: Bisa juga dilakukan sambil berbaring.

Tree Pose

Berdirikan bayi di depan tubuh Anda.

Sangga tubuh bayi dengan cara merangkul dada serta pinggangnya dengan tangan kiri Anda.

Tangan kanan Anda memegang tungkai kaki kanan bayi dan perlahan-lahan tekuk lututnya. Dengan begitu, telapak kaki kanan menempel pada samping lutut kaki kiri. Tahan posisi ini selama 5 detik, dan segera kembali ke posisi semula.

Lakukan gerakan ini masing-masing kaki 5 kali.

Manfaat:

- Melatih keseimbangan tubuh.

- Menguatkan otot tungkai.

Cat: Boleh dilakukan oleh bayi yang sedang belajar berdiri.

Divine Drops

Berdirilah dengan tegak. Kedua kaki terbuka selebar bahu dan ujung jari kaki menghadap ke luar.

Pegang tubuh bayi dengan punggung menempel di tubuh Anda. Tangan kanan merangkul dada bayi, sedang tangan kiri menyangga paha bawahnya.

Tekuk lutut Anda secara perlahan, dan jaga agar punggung tetap tegak.

Ayunkan tubuh Anda, serta biarkan tubuh bayi ikut terayun dari atas ke bawah.

Ulangi gerakan sampai 10 kali.

Manfaat: Menenangkan dan menyenangkan bayi.

Cat: Bisa dilakukan sejak bayi berusia 3 bulan (lehernya sudah tegak).

Womb Wings

Berdiri tegak dengan kedua kaki terbuka selebar bahu.

Pegang tubuh bayi dengan punggung menempel di tubuh Anda. Tangan kanan Anda merangkul dada bayi, sementara tangan kiri menyangga paha bawah bayi.

Bungkukkan tubuh Anda. Jaga agar punggung tetap lurus ya.

Ayunkan tubuh bayi ke arah depan dan belakang.

Gerakan ini bisa dilakukan hingga 10 kali.

Manfaat: Menenangkan plus menyenangkan si kecil.

Cat: Dilakukan setelah ia berusia 3 bulan.

Super Baby

Berbaringlah di matras. Tekuk kedua lutut Anda, sehingga membentuk sudut 90 derajat dengan perut Anda.

Sangga tubuh bayi dengan memegang erat-erat bagian ketiak dan samping tubuhnya.

Letakkan si kecil di atas kedua tungkai kaki Anda (perutnya menempel pada tungkai). Dengan begitu, bayi bisa memandang Anda dari atas.

Ayun-ayunkan tubuh serta tungkai kaki Anda, sehingga tubuh bayi juga ikut terayun. Mirip-mirip gerakan burung yang sedang terbang lah.

Manfaat: Menenangkan dan juga menyenangkan bayi Anda.

Cat: Boleh dilakukan sejak si kecil usia 3 bulan.

Monday, June 4, 2007

Tak Usah Cemaskan Posisi Tidur Bayi

Bayi baru lahir cuma bisa tidur telentang. Setelah usia 3 bulan, bayi bisa memilih sendiri posisi tidur yang nyaman baginya. Sampai-sampai, ada bayi yang tidurnya lasak.

Kala si kecil baru lahir, sering kita dinasehati untuk mengubah-ubah posisi tidurnya, terutama agar kepalanya enggak peyang lantaran tidur telentang terus-menerus. Bahkan, ada yang menyarankan supaya bantalnya diisi beras karena beras itu akan mengikuti bentuk kepala bayi.

Memang, aku dr. Eric Gultom, SpA dari bagian perinatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, bisa saja terjadi kepala peyang jika bayi tidur dengan satu posisi saja. "Kepala bayi baru lahir, kan, belum menyatu tulang-tulangnya, jaringan-jaringannya belum tumbuh, masih longgar, dan banyak air. Hingga, bila ada tekanan pada satu sisi yang signifikan dan terus-menerus, menyebabkan kepalanya jadi peyang," terangnya. Tapi begitu tekanan pada satu sisi ini hilang, peyangnya juga hilang karena tengkoraknya masih berkembang dan tumbuh. "Jadi masih banyak pertumbuhan yang akan terjadi seperti daging, kulit, otak, dan tulang kepalanya, hingga peyangnya bisa hilang dan kepala jadi bagus kembali."

Lain hal jika ada faktor keturunan, misal, si bapak punya kepala bagian belakang yang datar (enggak bulat). "Nah, kebetulan anaknya membawa gen dari orang tuanya, hingga ia pun bisa jadi peyang kepalanya." Namun begitu, kepala peyang tak perlu dikhawatirkan karena tak akan membuat bayi jadi sakit. Jika selama ini kepala peyang kerap dipersoalkan, semata cuma lantaran estetika saja. Jikapun si kecil punya kepala peyang, toh, tetap tak mengurangi kegantengan atau kecantikannya. Iya, kan, Bu-Pak?

TIDUR TENGKURAP

Sebenarnya, tutur Eric, posisi tidur bayi bisa bermacam-macam. Tentu pada bayi baru lahir sampai usia 3 bulan, posisinya cuma telentang karena memang kemampuan motoriknya baru sampai di situ. Nah, kita bisa membantu mengubah posisinya dengan dimiringkan ke kanan atau kiri maupun ditengkurapkan. Namun, posisi yang disebut terakhir, hingga kini masih kerap diperdebatkan.

"Di negara Barat, tidur tengkurap dikaitkan dengan SIDS, yaitu Sudden Infant Death Syndrome atau sindrom kematian mendadak pada bayi. Secara statistik atau epidemiologi penelitian, SIDS banyak terjadi pada bayi yang tidur tengkurap," terang Eric. Apa penyebabnya tak diketahui, tapi kemungkinan lebih sering terjadi karena sofokasi, yaitu tersedak atau tercekik saluran napasnya hingga napasnya berhenti.

Toh, kita tak perlu khawatir karena kasus SIDS jarang ditemui di Indonesia. Selain itu, tidur tengkurap justru lebih baik karena banyak manfaatnya. "Ada literatur yang menyatakan, dengan tidur tengkurap, bayi jadi lebih nyaman, bisa tidur nyenyak, tangisnya berkurang, gerak pernapasan dan perkembangan motoriknya juga lebih baik."

Jadi, dari hasil penelitian ada yang mendukung namun ada juga yang tidak. Nah, kita mengambil jalan tengah saja; boleh tidur tengkurap asalkan tetap diawasi karena alasan sofokasi tadi yang bisa saja terjadi. Selain, harus diperhatikan pula apakah si bayi bermasalah atau tidak semisal lahir prematur.

MENCEGAH GUMOH

Kebanyakan bayi yang lahir sakit dalam arti dirawat di RS karena lahir prematur, minumnya pakai selang atau masih pakai bantuan mesin pernapasan, tidurnya diposisikan tengkurap atau miring ke kanan. Ini dikaitkan dengan waktu pengosongan lambung jadi lebih mudah. "Pintu lambung itu, kan, ada di sebelah kanan. Jadi, kalau dimiringkan ke kanan, minuman yang diminumnya masuk ke usus-usus hingga pintu pengosongannya lebih cepat," jelas Eric. Selain, posisi kepala yang agak lebih tinggi juga membantu dalam hal gravitasinya.

Itulah mengapa, kala bayi hendak dibawa pulang, pihak RS kerap menganjurkan agar bayi sering ditidurkan dalam posisi miring. Begitupun tidur tengkurap, "minuman yang masuk akan langsung masuk ke lambung, hingga bisa mencegah terjadi gumoh lebih banyak." Namun posisi-posisi ini lebih dianjurkan pada bayi yang menyusui dan umumnya usia di bawah sebulan. Soalnya, kalau sudah makan makanan padat seperti di usia 5 bulan ke atas, "posisi tak berpengaruh terhadap pengosongan lambung, karena di usia tersebut sudah jarang gumoh."

TIDUR LASAK

Setelah usia 3 bulan, tidurnya tak lagi cuma telentang karena kini ia sudah banyak bergerak dan bisa berguling. Ia akan mencari posisi yang dirasanya enak semisal tengkurap. Tidurnya pun bisa berpindah-pindah alias lasak. Umumnya mengikuti pergerakan atau insting bayi di dalam rahim. "Nggak masalah, kok, selama hal itu tak menyebabkannya sakit. Malah boleh dibilang, perkembangan motoriknya bagus," tutur Eric. Tapi, apakah tidur lasak ini akan berlanjut atau tidak sampai besar, tak bisa dipastikan karena tak ada dasar ilmiahnya.

Perlu diketahui, bayi punya refleks dan insting sendiri untuk mencari posisi tidur yang paling enak, nyaman, dan tak membahayakan dirinya. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan posisi tidur si kecil, ya, Bu-Pak. Sekalipun saat terbangun dari tidur, ia sudah berada di posisi yang berbeda dengan saat ia mulai tidur. Yang penting diperhatikan, pagar pengaman sekeliling tempat tidur si kecil harus cukup kuat. Hingga, selasak apapun si kecil tak akan membuatnya terjatuh dari tempat tidur lantaran pagar pengamannya kuat. Tentu tempat tidurnya juga jangan terlalu tinggi, ya.

POSISI TIDUR TAK NORMAL

Bahwa ada posisi tidur yang membedakan antara bayi sehat atau tidak, memang benar. Perbedaan ini dilihat dari letak tangan, kaki, dan kepala. Dari situ dokter bisa mengetahui kelainan yang terjadi pada si bayi. Sayang, posisi tidur yang tak normal ini hanya "milik dokter", sebagaimana dikatakan Eric, "posisi-posisi tidur bayi yang sakit ini tak perlu diketahui khalayak umum karena lebih untuk kepentingan klinik, bukan perawatan di rumah."

Lagi pula, kejadiannya hanya ada di RS, jadi sebelum si bayi dibawa pulang. Bukankah kalau bayi sudah boleh dibawa pulang berarti ia sudah dinyatakan sehat oleh dokter? Jadi, posisi tidurnya pun sudah normal. "Hampir tak pernah ada bayi sehat yang dibawa pulang lalu datang kembali ke rumah sakit dengan keluhan posisi tidurnya, tapi lebih pada keluhan karena tiba-tiba ada sesuatu yang menyebabkan si bayi masuk rumah sakit seperti malas minum, suhu meningkat, muntah, mencret, dan sebagainya," tutur Eric.

Bonding Ayah dengan Bayi

Bonding merupakan keterikatan yang intens yang terbangun antara orang tua dan bayinya, demikian menurut definisi American Academy of Family Physicians (AAFP).
Meski bayi dan ibunya biasanya merasakan keterikatan dalam waktu cepat, namun prosesnya butuh waktu lebih lama bagi seorang ayah. Apa saja yang dapat dilakukan ayah untuk lebih mendekatkan diri dengan bayinya? Berikut beberapa saran :
  1. Berpartisipasi pada saat kelahiran dengan mendampingi sang istri di ruang bersalin
  2. Sentuhlah bayi Anda
  3. Ciptakan kontak mata dengannya
  4. Berkomunikasilah dengan bayi
  5. Suapilah dia dan ganti popoknya jika bayi buang air kecil atau buang air besar
  6. Selalu ikuti perkembangan bayi
  7. Biarkan bayi menyentuh Anda sebagai ayahnya
  8. Gunakan gendongan di depan sambil Anda melakukan rutinitas kerja. Sesekali ayah perlu melakukan hal ini saat harus bergantian dengan istri mengasuh bayi.